Jumat, 17 April 2009

Petilasan Blambangan, Riwayatmu Kini


Kerajaan Blambangan adalah cikal bakal munculnya Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kebesaran daerah di ujung timur pulau Jawa ini identik dengan keemasan masa kerajaan Majapahit. Sayangnya, sejumlah petilasan yang membuktikan kebesaran Blambangan sudah musnah. Hanya beberapa yang tersisa. Itu pun kondisinya cukup memprihatinkan.
Tidak ada sumber otentik terkait kerajaan Blambangan. Bahkan hampir seluruh budayawan Using Banyuwangi menyangsikan adanya kerajaan ini. Sejumlah tokoh di dalamnya pun dianggap fiktif atau sekedar cerita fiksi. Namun, bagi komunitas Jawa, Blambangan diyakini benar-benar ada. Termasuk raja dan serangkaian tokoh di dalamnya. Selain didasarkan petilasan yang tersisa, suku Jawa cukup kental mengagungkan kebesaran raja-raja di zaman Blambangan.
Menilik cerita sejarah, Blambangan ada sejak tahun 700 - 1400 masehi. Kurangnya bukti prasasti membuat kehadiran kerajaan ini hanya sebuah cerita rakyat. Bahkan silsilah keturunan bangsawannya pun sama sekali tidak ada. Alhasil, tidak ada satu pun penyebutan pasti waktu pemerintahan masing-masing raja.
Dari hikayat yang berkembang, ada lima raja yang pernah memerintah Blambangan. Raja pertama adalah Siung Manoro yang datang dari Kediri, Jawa Timur. Tokoh ini pertama kali masuk ke Alas Purwo dan tinggal di rumah penguasanya, mbah Dewi Roro Upas. Tidak disebutkan pasti sampai kapan pemerintahan Siung Manoro dan hubungannya dengan ratu Alas Purwo tersebut.
Raja kedua, Kebo Mancuet, putra seorang bangsawan dari Klungkung,Bali. Disebutkan, tokoh ini memiliki sepasang tanduk. Karena keanehan inilah, dia dibuang orang tuanya ke Alas Purwo. Di tempat ini, dia dirawat seorang rsi sakti, Ki Ajah Pamengger yang juga kakek Minak Jinggo atau Joko Umbaran, salah satu raja Blambangan.
Selanjutnya Blambangan dipegang Joko Umbaran, pemuda sakti asal daerah Grati, Pasuruan, Jawa Timur. Kala itu, kerajaan Majapahit dipimpin seorang ratu, Kencono Wungu yang cantik jelita. Naiknya Joko Umbaran menjadi raja diawali sayembara Ratu Kencono Wungu. Ratu cukup repot dengan kehadiran adipati Blambangan Kebo Mancuet yang mulai merongrong Majapahit.
Akhirnya disayembarakan, barang siapa mampu membunuh Kebo Mancuet akan diberikan tanah Blambangan dan dijadikan suami Kencono Wungu. Singkat cerita, Joko Umbaran berhasil membunuhnya. Dia menang setelah dibantu seorang pemanjat kelapa, Dayun. Kemenangan itu harus dibayar mahal. Wajah Joko Umbaran rusak dan kakinya pincang.
Kemudian Joko Umbaran dinobatkan menjadi raja Blambangan bergelar Minak Jinggo atau Uru Bismo. Dalam hikayat suku Jawa, Minak Jinggo digambarkan seorang raja yang jahat. Dia memiliki senjata besi kuning yang sakti dan memiliki dua istri, Wahito dan Puyengan. Dua permaisuri ini konon berasal dari Bali.
Karena kesaktiannya inilah Minak Jinggo menjadi raja paling ditakuti. Bahkan kekuasannya terus meluas hingga Probolinggo,Jawa Timur. Kondisi ini menjadi ancaman bagi Ratu Kencono Wungu. Apalagi, Minak Jinggo mulai menagih janji untuk bisa dinikahi sesuai bunyi sayembara.
Dalam kondisi tegang, Ratu Kencono Wungu memerintahkan seorang pemuda sakti, Damarwulan untuk menumpas Minak Jinggo. Usaha ini berhasil. Minak Jinggo terbunuh dan kepalanya dipenggal. Kisah perjuangan Damarwulan ini hingga sekarang menjadi cerita sejarah paling pupuler bagi komunitas warga Banyuwangi. Saking populernya, warga membuatnya menjadi sebuah kesenian Damarwulan yang dikenal dengan janger.
Tidak ada sumber pasti kisah Damarwulan ini. Bahkan Budayawan Banyuwangi sering menyebut hadirnya Damarwulan hanya simbol cerita yang mengandung beribu pilosofi. Dikisahkan setelah berhasil membunuh Minak Jinggo, Damarwulan dinikahi Ratu Kenconowungu dan menjadi raja Majapahit.
Setelah Minak Jinggo, Blambangan dipimpin adipati Siung Laut yang asli warga Blambangan. Dia memiliki seorang putri cantik, Dewi Sedah Merah. Putri ini rencananya diinikahkan dengan patihnya, Joto Suro. Namun gagal. Sang putri memilih kabur ke Mataram (Jawa Tengah) bersama kekasihnya, pangeran Julang. Kemudian, Siung Laut hijrah ke Bali bersama permaisurinya dan bergerlar Jaya Prana dan Layang Sari.
Raja terakhir Blambangan adalah Joto Suro. Setelah diangkat menjadi raja, Joto Suro kembali ingin mendapatkan Dewi Sedah Merah. Dengan kekuatan pasukannya, Joto Suro menyerang Mataram. Usahanya berhasil. Sedah Merah diboyong ke Blambangan. Sedangkan suaminya, Pangeran Julang memilih kabur. Meski menjadi tawanan, Dewi Sedah Merah menolak dinikahi. Dia memilih mati dengan bunuh diri. Selama menjadi raja, Joto Suro mengangkat patih Ario Bendung.
Ario Bendung kemudian ditipu agar menyerang Mataram. Padahal itu hanyalah akal-akalan Joto Suro untuk menikahi istri Ario Bendung. Namun gagal, istri Ario Bendung menolak,lalu dibunuh Joto Suro. Mendengar istrinya tewas, Ario Bendung mengamuk di Blambangan. Termasuk membunuh Joto Suro dan seluruh rakyat Blambangan. Tanpa sebab yang jelas, Ari Bendung akhirnya bunuh diri dan tewas di Mataram. Kepergian Ario Bendung ke Mataram bertepatan munculnya banjir lahar yang melanda Blambangan. Saat itu penduduk Blambangan hanya tinggal 10 orang. Lima bertahan di Blambangan, sisanya memilih pindah ke Mataram. Konon, sejak itu Blambangan menjadi hutan belantara. Seluruh bekas kerajaan yang ditinggalkan hancur tertimbun lahar.
Kisah sejarah Blambangan versi Jawa tersebut dimentahkan seluruh budayawan Banyuwangi. Minimnya bukti di lapangan makin menguatkan pernyataan itu. Sampai kini, Blambangan tetap diyakini baru muncul sekitar tahun 1700. Yakni, selama kepemimpinan Prabu Tawang Alun dengan kerajaannya di Desa Macanputih,Kabat,Banyuwangi.
Tawang Alun diyakini keturunan bangsawan Majapahit dari Jember,Jawa Timur. Kemudian mendirikan kerajaan Macan Putih sebagai ibu kota Blambangan. Sebelum menetap di Macan putih, Tawang alun memindahkan pusat pemerintahannya sebanyak tiga kali. Pertama di daerah Lateng,Rogojampi,lalu ke Bayu,Songgon dan terakhir di Macan Putih, Kabat.
Keturunan Tawang Alun, Rempeg Jogopati yang berperang puputan melawan Belanda juga diyakini masih memiliki ikatan darah dengan keraton Mengwi, Badung. Dari sinilah nama Banyuwangi muncul setelah menghilangnya Blambangan. “ Bukti sejarah Blambangan memang sangat minim. Apalagi tidak ada satu pun prasasti yang menyebutkannya. Kami hanya menganalisa dari berbagai sumber yang otentik,” kata budayawan Banyuwangi, Hasan Ali.
Keyakinan ini didasarkan pada berbagai bukti catatan sejarah. Konon, dari buku-buku sejarah yang ada di perpustakaan Leiden, Belanda, nama Blambangan hanya disebut sejak pemerintahan Tawangalun. Nama Blambangan sendiri pun juga simpang siur. Ada yang menyebut cikal bakalnya adalah tirto arum. Ada juga dari kesusastraan kerajaan Kediri menyebut Blambangan dengan Balamboangan. Artinya, daerah subur penghasil padi terbesar selama pemerintahan Majapahit. Bukti ini bisa dikaitkan dengan julukan Banyuwangi saat ini yang dikenal dengan lumbung padi nasional.
Penetepan hari jadi Banyuwangi 18 Desember 1771 juga didasarkan pada sejarah perjuangan Tawangalun dan keturunannya melawan penjajah Belanda. Banyaknya bukti sejarah bekas kerajaan Blambangan yang tersisa kata Hasan Ali tidak ada kaitannya dengan hikayat Damarwulan, Minak Jinggo dan Blambangan.
Diperkirakan beberapa situs sejarah Blambangan yang diyakini peninggalan Minak Jinggo justru bekas istana dari kerajaan Tawang alun. “ Pernah ada penelitian tentang itu. Tapi hasilnya nihil, tidak ditemukan ada bukti yang mengaitkan dengan zaman Blambangan,” tegas pendiri Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi ini. Berdasar bukti itulah Blambangan tetap diyakini tidak penrah ada dan hanyalah sebuah hikayat.


1 komentar:

  1. Kadipaten Blambangan tercatat dalam Parararaton, dan Negarakertagama. Kisah Perang Peregreg antara Majapahit dan Blambangan bukan hayalan dan memang pernah terjadi. Bahakan dicatat oleh rombongan Laksmana Cheng-Ho saat beliau datang ke Jawa tepat saat terjadinya perang Paregreg.

    BalasHapus